Pengujian Produk

Uji Sifat Mudah Terbakar Pada Helm SNI
Gambar diambil dari www.kotakhelm.com

Pengujian produk adalah strategi untuk meningkatkan aspek perlindungan konsumen. Pengujian produk dapat dilakukan oleh pembuat produk yang bekerja sama dengan peneliti independen atau peneliti yang ditunjuk oleh pemerintah.

A. Tujuan Pengujian Produk

a.  Memastikan bahwa persyaratan spesifikasi, regulasi, dan kontrak produk dapat terpenuhi.

b.  Memutuskan apakah produk tersebut sudah berjalan di jalur yang semestinya.

c.  Alat demonstrasi produk.

d.  Menetapkan kesesuaian produk terhadap penggunaan akhir.

e.  Menyediakan dasar komunikasi teknis suatu produk.

f.  Menyediakan informasi perbandingan dengan produk-produk lain.

g.  Upaya menciptakan produk yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

h.  Membantu pemecahan masalah tehadap kendala produk.

i.   Menentukan potensi penghematan dalam produksi suatu produk.

B. Keuntungan Pengujian Produk

1. Menjajal Strategi Pemasaran

Dengan adanya pengujian produk, kita bisa mengetahui strategi pemasaran mana yang akan bisa diterapkan. Contoh, wirausahawan produk otomotif sepeda motor diperbolehkan tidak memakai model-model desain produk yang tidak begitu disukai konsumen di dunia otomotif.

2. Memberikan Informasi Mengenai Produk

Wirausahawan akan mendapatkan masukan dari para penguji mengenai produk otomotif sepeda motor yang akan diluncurkan. Mengapa demikian? Karena dari pengujian tersebut akan diketahui kelebihan serta kelemahan dari produk yang dibuat.

3. Membantu Produsen Mencermati Kesalahan

Wirausahawan dapat mengetahui cacat apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya pengembalian barang.

C. Permasalahan-permasalahan Dalam Penerapan Pengujian Produk

1. Membuat perusahaan membayar biaya ekstra. Masalah yang cukup besar akan timbul jika pengujian produk bersinggungan dengan tujuan bisnis perusahaan. Contoh, pengujian produk yang memakan waktu sangat lama akan menurunkan tingkat permintaan suatu produk, sehingga perusahaan akan merugi akibat turunnya permintaan atas produk tersebut.

2. Menguji produk yang salah. Misalnya, hanya menguji fisiknya saja. Padahal nilai produk yang sesungguhnya bukan berasal dari aspek fisik saja.

3. Melakukan perbandingan dengan produk yang salah. Melakukan pengujian dengan pesaing bisnis yang lebih lemah.

4. Menanyai pihak yang salah.

5. Melakukan pengujian pada lingkungan pasar yang berbeda dari lingkungan pasar asli produk tersebut.

6. Melakukan pengujian kepada segmen konsumen yang tidak sesuai dengan produk.

D. Pihak-pihak yang Berperan Dalam Pengujian Produk

1. Pemerintah. Pemerintah menetapkan hukum yang menyatakan kewajiban produsen untuk menjelaskan dan menjamin keamanan produknya.

2. Perusahaan. Perusahaan menyediakan produk dan layanan yang sesuai dengan standar perusahaan. Biasanya, standar yang diterapkan adalah standar fakultatif (artinya, perusahaan tersebut menetapkan aturan untuk dirinya sendiri), dan standar wajib (dikeluarkan pemerintah).

E. Jenis-jenis Pengujian Produk

1. Pengujian Lihat dan Pegang.

Pengujian tersebut dilakukan untuk menguji aspek visual dan tekstur produk. Selain itu, pengujian lihat dan pegang digunakan apabila suatu produk tidak akan melalui pengujian lebih lanjut. Contoh:

a. Dilakukan pengujian lihat dan pegang pada produk mur dan baut. Dilihat apakah bentuknya terlalu kasar, rapuh atau baik, tekstur halus dan kuat.

b. Tes pegang dan lihat pada vulkanisir ban, apakah hasil produknya kurang kuat, mudah sobek, dan sebagainya.

2. Tes Penggunaan

Konsumen diberi produk untuk digunakan sebagai bahan pertimbahan untuk perbaikan dan pertimbangan. Jika hasilnya sudah baik, maka kemungkinan besar calon konsumen akan tertarik membeli produk tersebut.

F. Proses Pengujian Produk Baru

1. Technical Testing (Pengujian Teknis)

Yaitu dengan cara membuat prototype yang merupakan approximation (perkiraan) produk akhir. Pengujian atas kinerja produk prototype dapat menghasilkan sejumlah informasi penting tentang  product shelf life (usia panjang produk), tingkat keusangan produk, masalah yang timbul dari pemakaian atau konsumsi yang tidak seharusnya, potensi kerusakan yang memerlukan penggantian dan jadwal pemeliharaan yang tepat. Masing-masing dari jenis informasi tersebut mempunyai dampak biaya terhadap pemasaran produk. Contohnya, estimasi usia pajang produk bisa berpengaruh  terhadap frekuensi dan biaya pengiriman.

2. Pengujian Preference and Satisfaction Testing (Preferensi dan Kepuasan)

Dipakai untuk menetapkan elemen-elemen yang akan dirancang dalam rencana pemasaran serta membuat tafsiran penjualan awal produk baru. Konsumen menggunakan sebuah produk selama jangka waktu tertentu, kemudian mereka diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan preferensi serta kepuasan. Selanjutnya melaksanakan “blind test” sehingga konsumen dapat membandingkan berbagai macam alternatif produk tanpa mengetahui nama merek atau produsennya.

3. Simulated Test Markets (Pengujian Pasar Simulasi)

Yaitu prosedur riset pemasaran yang dibuat untuk memberikan gambaran yang murah dan cepat tentang pangsa pasar yang bisa diharapkan dari produk baru. 

4. Test Markets (Pengujian Pasar)

Perusahaan akan menawarkan sebuah produk untuk dijual di wilayah pasar terbatas yang sebisa mungkin dapat mewakili keseluruhan pasar dimana produk itu nantinya  akan dijual.

F. Proses Standardisasi

Standardisasi merupakan penentuan ukuran yang harus diikuti dalam memproduksi sesuatu. Istilah standardisasi berasal dari kata standar yang berarti satuan ukuran yang dipergunakan sebagai dasar pembanding kuantitas, kualitas, nilai, dan hasil karya produk. Dalam arti yang lebih luas, maka standar meliputi spesifikasi produk, bahan, maupun proses. Suatu produk harus standar agar dapat diterima oleh pengguna.

Badan pengatur standardisasi produk, yaitu:

1. Badan Standardisasi Nasional (BSN)

Sumber: BSN_SNI

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia yang dirumuskan oleh Komite Teknis Perumusan SNI dan ditetapkan oleh BSN.

Penerapan SNI pada dasarnya bersifat sukarela. Namun, untuk keperluan melindungi kepentingan umum, keamanan negara, perkembangan ekonomi nasional, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup, pemerintah dapat memberlakukan SNI tertentu secara wajib.

Suatu produk yang sudah memenuhi SNI akan diberi tanda SNI. Apabila SNI untuk produk tertentu telah diwajibkan, produk yang tidak bertanda SNI tidak boleh diedarkan atau diperdagangkan di wilayah RI.

Sedangkan suatu produk yang berada di luar daftar yang wajib, tanda SNI berfungsi sebagai tanda bahwa produk tersebut memiliki keunggulan (value added), tapi tidak melarang peredaran produk sejenis yang tidak bertanda SNI.

2. Organization for Standardization (ISO)

SNI Bagian Dari ISO
Sumber: BSN_SNI

Organisasi internasional untuk standardisasi yaitu International Organization for Standardization atau disingkat ISO. ISO merupakan organisasi non-pemerintah yang menjembatani sektor publik dan swasta. Dalam arti sektor publik karena banyak lembaga anggota merupakan badan pemerintah atau badan yang diberi kuasa oleh pemerintah. Di segi lain, anggota lain berakar pada sektor swasta yang didirikan oleh asosiasi industri. Maka, ISO memungkinkan tercapainya konsensus untuk memenuhi permintaan bisnis dan bidang masyarakat yang lebih luas.

Sumber: BSN_SNI

Meski ISO adalah organisasi non-pemerintah, kemampuannya untuk menetapkan standar yang sering menjadi hukum melalui persetujuan atau standar nasional membuatnya lebih berpengaruh daripada kebanyakan organisasi non-pemerintah lainnya.

H. Pengendalian Mutu (Quality Control)

Pengendalian mutu adalah proses penilaian dan pengawasan kualitas atas hal-hal yang berkaitan dengan produksi. Penekanan pada pengendalian mutu terletak pada pengujian produk untuk mendapatkan produk yang cacat. Dalam pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara acak (menggunakan teknik sampling). Setelah menguji produk yang cacat, hal tersebut akan dilaporkan kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat dirilis atau ditolak. Hal ini dilakukan guna menjamin kualitas dan merupakan upaya untuk meningkatkan dan menstabilkan proses produksi (dan proses-proses lainnya yang terkait) untuk menghindari atau setidaknya meminimalkan isu-isu yang mengarah kepada kecacatan-kecacatan di tempat pertama, yaitu pabrik.

I. Kesesuaian Hasil Produk Dengan Rancangan

Proses produksi yang baik, harus bisa menciptakan benda produk sesuai gambar rancangan awal. Pada umumnya untuk membuat sebuah produk yang sesuai dengan rancangan harus melewati tahap-tahap sebagai berikut.

1. Market Research and Feasibility Study Market Research

Dilaksanakan sebagai cara untuk mengetahui selera pasar pada umumnya. Dari market research ini, bisa didapatkan produk seperti apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh konsumen, untuk perbaikan dan modifikasi produknya.

2. Brainstorming (Curah Pendapat)

Brainstorming adalah proses mengumpulkan ide-ide untuk mencari solusi/jalan keluar dari masalah yang didiskusikan. Dari proses berdiskusi ini akan didapatkan garis besar produk yang akan dibuat, cara kerja, komponen yang akan dipakai, dan lain sebagainya.

3. Menentukan Tujuan dan Batasan Produk

Tujuan dan batasan diperlukan agar kita tidak berlebihan dalam merancang produk yang akan berakibat mahalnya harga jual ke konsumen. Konsumen tentu saja menginginkan nilai tambah dalam produk tersebut sepadan dengan biaya yang dikeluarkannya (reasonable price). Dari menentukan tujuan dan batasan ini, kita memperoleh spesifikasi komponen-komponen dan material apa saja yang akan dipakai.

4. Menggambar Produk

Dengan menggambar produk berdasarkan hubungan dimensi komponen-komponen yang sudah ditentukan dalam tahap sebelumnya, kita akan mendapatkan ilustrasi produk jadi. Produk bisa digambar dalam 3 dimensi agar lebih mudah dimengerti.

About the Author

12 Comments on this article. Feel free to join this conversation.

  1. fery herdiyanto Oktober 8, 2019 pukul 1:42 am - Reply

    sangat membantu dalam tugas kwu

    • Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:08 am - Reply

      Semangat mengerjakan tugas Mas Fery

  2. salsa billah saputri Oktober 8, 2019 pukul 1:55 am - Reply

    saya sangat terbantu sekali dengan materi diatas . apalagi ditambah dengan contoh contoh video yang berkaitan dengan materinya .

    • Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:03 am - Reply

      Alhamdulillah, semangat belajar ya Mba Salsa Billah

  3. Agung firmansyah Oktober 8, 2019 pukul 1:56 am - Reply

    menurut saya terdapat beberapa kalimat istilah yang blm di jelaskan sehingga membuat pembaca cukup kesulitan memahami materi..

    cth: teknik sampling,reasonable price,blind test,value added dsb

    • Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:20 am - Reply

      Terimakasih Mas Agung untuk koreksinya

  4. Yani Restiani Oktober 8, 2019 pukul 2:09 am - Reply

    Menurut saya artikel dan video sangat membantu proses pembelajaran siswa atau pembaca blog ini. karena disini di jelaskan secara jelas mengenai produk produk yang ber SNI khususnya batik:)

  5. Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:09 am - Reply

    Mba Melinda suka pake batik?

  6. Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:13 am - Reply

    Siapa tahu ada video dari sumber lain yang lebih lengkap, cari yuk Mba Salsa Nabilah

  7. Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:15 am - Reply

    Semangat belajar Mba Wahyuni

  8. Galang Tegar P Oktober 8, 2019 pukul 2:19 am - Reply

    sangat bermanfaat sekali bu,,teruskan

    • Menik Yuni Hartini Oktober 8, 2019 pukul 2:29 am - Reply

      Alhamdulillah, semoga membantu

Leave A Response