PENATAAN PRODUK

Penataan Produk

Penataan produk (display) adalah suatu usaha yang dilakukan untuk menata produk di toko/supermarket sedemikian rupa sehingga mendorong ketertarikan calon pembeli untuk melihat dan memutuskan membelinya.

A. Karakteristik Penataan Produk

Menurut Kotler (2012), tiga karakteristik penataan produk (display) yang baik adalah sebagai berikut.

1. Khas dan dramatis.

Calon konsumen menaruh perhatian dan minat terhadap produk karena adanya interaksi dramatis antara elemen warna, alat peraga, aksesori, pencahayaan, dan pererakan di dalam toko/supermarket.

2. Memiliki tema dominan.

Perhatian, minat, dan daya tarik pengunjung toko meningkat ketika display produk menggunakan tema-tema sentral tertentu.

3. Sederhana.

Pesan penataan produk (display) dapat dengan cepat diterima dan dipahami.

B. Syarat Penataan Produk

1. Mudah dijangkau.

Kemudahan dalam mencari dan mengambil barang dapat menjadi nilai tambah bagia kepuasan konsumen. Hal ini merupakan persyaratan mutlak mengingat toko swalayan bersifat self-service, artinya konsumen mengambil sendiri semua barang yang akan dibeli.

2. Lokasinya tepat.

Dalam men-display barang harus diperhatikan aspek visual merchandising (VM). Penempatan produk pada lokasi yang tepat disesuaikan dengan jenis, ukuran, warna, dan lain-lain harus diperhatikan.

3. Aman.

Display harus memperhatikan aspek keamanan, baik keamanan bagi pengelola toko dari potensi-potensi kehilangan maupun keamanan bagi pengunjung (konsumen) yang berada di dalam toko, misalnya sebagai berikut.

a. Tidak menempatkan barang-barang yang mudah pecah di sembarang rak.

b. Barang-barang yang mahal dipajang secara closed display.

c. Barang-barang yang ukurannya kecil biasanya dipajang di etalase.

d. Barang-barang kemasan kaleng yang cukup berat ditempatkan pada tingkatan rak paling bawah untuk menghindari risiko timbulnya cedera bagi pengunjung (terutama anak-anak) jika barang tersebut terjatuh.

4. Menarik

Penataan produk dapat memadukan beberapa tipe display, perpaduan warna, bentuk kemasan, kegunaan barang, serta menambahkan kelengkapan display yang lain, seperti POP, SKU, dan lain-lain.

Point of Purchase (POP) adalah pemajangan poster, petunjuk dalam toko, dan alat promosi yang dipasang dalam toko. POP dibuat dengan berbagai macam dan bentuk, serta memuat informasi mengenai produk, seperti harga, promo produk, dan informasi produk baru.

Biasanya, POP diterapkan pada produk yang sedang promo. Display POP ditempatkan di dekat pintu keluar dan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh konsumen, ditulis dengan ukuran huruf yang mudah terbaca dan mudah dipahami, serta menggunakan desain yang menyolok (eye-catching) dengan bahan bermutu, sehingga menarik perhatian.

Sementara itu, Stock Keeping Unit (SKU) adalah suatu tulisan yang berisi keterangan mengenai nama produk, harga, nomor Price Look Up Unit (PLU) suatu produk, baik yang dibeli maupun dijual oleh perusahaan. Sering juga disebut dengan nama lain, seperti part number, product number, atau product identifier.

5. Bersih dan rapi.

Kebersihan dan kerapian adalah nilai jual yang harus diperhatikan demi menunjang keberhasilan display. Contohnya, produk yang diletakkan tidak pada tempatnya oleh konsumen atau terjadinya perubahan posisi produk karena ada produk yang sudah dibeli konsumen harus kembali dirapikan.

C. Tipe-tipe Penataan (Display) Produk

Menurut Alma Buchari (2009), dalam penataan produk dikenal tiga macam display, yaitu sebagai berikut.

1. Window display.

Window display adalah pemajangan barang di jendela toko. Selain untuk menarik minat konsumen, window display dapat menjaga keamanan barang dagang karena window display hanya memperlihatkan barang dagang yang ditawarkan saja, tanpa dapat disentuh oleh konsumen. Apabila konsumen ingin mengetahui lebih lanjut, konsumen dipersilakan masuk ke dalam toko dan mencari informasi tentang produk tersebut.

2. Open display.

Open display adalah pemajangan produk di tempat terbuka, sehingga calon pembeli dapat mengamati, memegang, dan memilih barang tersebut tanpa bantuan pramuniaga. Contohnya, barang-barang yang diletakkan di rak dan gondola.

3. Closed display.

Closed display adalah pemajangan barang dagang di tempat tertutup, sehingga pengunjung hanya dapat mengamati saja. Barang-barang tersebut tidak dapat dipegang oleh  calon pembeli. Konsumen harus dibantu pramuniaga untuk mengambil barang tersebut. Peralatan display yang digunakan biasanya adalah showcase (lemari kaca) atau etalase.

4. Architectural display.

Architectural display adalah pemajangan barang dagang dengan memperlihatkan cara penggunaan barang-barang tersebut. Contoh: kasur diletakkan di kamar tidur, kitchen set dipajang dalam sebuah ruangan menyerupai dapur, meja tamu diletakkan di ruangan menyerupai tamu.

5. Decoration Display.

Decoration display pada umumnya digunakan dalam rangka peristiwa khusus, seperti penjualan pada saat-saat hari raya Idul Fitri, Natal, Tahun Baru, dan sebagainya.

6. Solari display.

Solari display adalah pemajangan produk melalui media lain. Contoh: memajang pakaian model terbaru melalui boneka model (manekin).

7. Exterior display.

Exterior display adalah pemajangan produk di tempat tertentu di luar toko dan di luar kegiatan usaha yang biasa digunakan. Pemajangan ini banyak digunakan untuk tujuan promosi dan pengenalan produk baru, serta penjualan istimewa. Contoh: cuci gudang, discount, pameran, dan sejenisnya.

D. Langkah-langkah Penataan Produk

Penataan produk dapat dilakukan dengan cara:

  1. Koleksi terbaru dipajang paling depan, yang agak lama di tengah, dan yang paling lama di bagian paling belakang.
  2. Memadupadankan produk yang sedang menjadi tren.
  3. Mengelompokan produk berdasarkan usia dan jenis kelamin.
  4. Display dengan mix and match, misalnya atasan ditambah jacket/sweater, bawahnya celana panjang atau rok (fashion remaja).
  5. Setelan dipadankan dengan aksesorinya, misalnya sarung tangan, kaos kaki, dan topi rajut (fashion bayi).
  6. Sesuai koleksi atasan dan bawahan.
  7. Berdasarkan jenisnya, contoh celana training, celana panjang, dan celana pendek.
  8. Berdasarkan fungsinya, contoh: baju renang, baju basket, baju senam, baju sepak bola, dan lain-lain.
  9. Berdasarkan bahan kain yang digunakan, contoh: katun, spandek, dan polyster.
  10. Penataan menurut style (jenis motif atau print), misalnya: polos, bunga-bunga, kotak-kotak, bulat-bulat, garis-garis, motif gambar.
  11. Produk ditata menurut intensitas warna.
  12. Produk ditata menurut size atau ukuran.

E. Pengelompokan Penataan Produk

1. Sayuran (vegetables).

2. Buah-buahan (fresh fruits).

3. Daging (fresh meat).

4. Olahan susu (dairy products).

5. Produk yang dibekukan (chilled & frozen products).

6. Fashion bayi.

7. Fashion anak-anak.

8. Fashion remaja.

9. Fashion dewasa.

Daftar Pustaka

Buchari, Alma. 2007. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: CV Alfabet.

Hati, Dwi. Puji Nuryati dan Utami Hadiyati. 2018. Penataan Produk. Jakarta: Erlangga.

Kotler, Philip dan Armstrong, Gary. 2012. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *